PARHAMINJON

PARHAMINJON

“Masyarakat yang Menggantungkan Hidupnya dari Hasil Budidaya Hutan Kemenyaan”

A.    PENDAHULUAN

Kegiatan budi daya hutan untuk dijadikan kebun kemenyan disebut  menggelang. Budidaya dilakukan tanpa adanya unsur pembabatan dan penebangan secara total, tapi cukup  dengan pembersihan belukar di sekitar area tanaman dengan diameter 1-2 meter. Demikian juga  pohon–pohon yang tumbuh di dalamnya tidak serta merta ditebang tapi cukup dikuliti pangkal  batang pohon tertentu yang dianggap dapat mengganggu tanaman dengan harapan dalam  jangka waktu 1-3 tahun akan mati atau minimal daunnya gugur sehingga menjadi pupuk bagi  tanaman.    Dengan demikian pengelolaan hutan kemenyaan tidak dilakukan secara monokultur,  akan tetapi tingkat heterogenitas tanaman cukup  tinggi karena selain tanaman kemenyan  sebagai tanaman utama, juga diselingi secara tumpang sari berbagai jenis tanaman lain, seperti   petai, jengkol, duku dan durian. Ditambah lagi dengan berbagai jenis pohon yang tumbuh secara

alami di hutan yang dijadikan kebun kemenyan, dibiarkan tumbuh bersama dan hanya ditebang  kalau dibutuhkan untuk bahan bangunan rumah.  Sama seperti perladangan, dalam proses produksi selalu disertai dengan berbagai aturan  dan upacara yang berfungsi sebagai kontrol dalam proses produksi. Jenis upacaranya, misalnya  merkotas (makan bersama) dan meminta ijin penguasa hutan  (persintabien) ketika hendak  merencanakan dan mengawali pekerjaan membuka lahan. Jenis aturan setelah di hutan,  misalnya tidak diperkenankan buang hajat, tidak boleh bicara kotor dan berteriak, tidak  menyebut nama-nama binatang buas selama berada di dalam hutan. Model pengelolaan serta  aturan dan tabu-tabu yang terkandung di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung  sebenarnya sangat bermanfaat untuk konservasi alam. Dibanding dengan pengelolaan dalam sistem perladangan, teknologi yang digunakan  lebih sederhana,  karena sama sekali tidak mengenal sistem pemupukan (pupuk buatan),  peralatan mekanis dan bibit unggul dalam proses produksi. Peralatan yang digunakan sama  dengan sistem perladangan, yakni parang dan kapak yang hanya mengandalkan tenaga manusia  (Berutu, 1998; 1998)

“Awan tebal menutupimu dipagi hari

Angin bertiup seirama dangan nyanyian alammu

Sinar sang surya membakar semangat pengisimu

Bangun, Bergegas dan meikul peralatan tani ke huma

Duniamu jauh dari keramaian

Keheningan serta sepi slalu menemanimu

Namaun aroma dan keharumanmu terhirup

Hingga Kepenjuru”

B.    Masyarakat Pertani Kemenyaan “Parhaminjon” di Desa Huta Julu

Kiasan kata indah suatu  hal yang tepat untuk Desa ini. Keramaian dan kebisingan seperti halnya yang terdapat di perkotaan bukanlah ciri yang terpancar darinya namun hal yang sebaliknya ketenang, hening, dan sepi yang disertai nyanian alam anugera sang kuasa sesuatu hal yang tadak dapat dipisahkan  darinya.

Desa Huta Julu merupakan suatu desa yang terletak di kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan. Desa ini diapit dan terkubur antara perbukitan  terletak pada perbatasan Kabupaten Humbang Hasundutan dengan Kabupaten Samosir serta Kabupaten Dairi.

Pagi itu “senin, 7  meret 2011,  istri yang telah menyiapkan bekal suami yang hendak berangkat melakukan aktivitas seperti yakni berangkat kehutan kemenyaan. Kegatan seperti ini hampir semuan masyarakat desa hutajulu melakukannya bagi masyarakat yang memiliki kebun kemenyaan. Tradisi masyarakat dimana suami tidak diizinkan untuk mempersiapkan bekal yang dibawa kehutan kemenyaan, tetapi sisuami hanya diizinkan menyiapakan peralatan perkebunan yang dipakai dihutan kemenyaan.

Gambar : Perjalanan para petani kemenyaan menuju kebun kemenyaan

Jarak antara perkampungan dengan kebun kemenyaan relativ jauh kira-kira perjalanan memakan waktu setengah hari (4-6) jam perjalanan. Selama dalam perjananan biasanya para petani kemenyaan ini berkelompok  yang saling bertemu di perempatan jalan antar kampong. Selama perjalannan ini para kelompok petani kemenyaan  ini biasanya mempunyai kegiatan  bernyanyi, berdebat masalah adat dan bahkan masalah politik dan pemerintah dan bisanya dalam perjalann para kelompok petani kemenyaan ini akan beristrahat selama 15 menit selama dua kali dengan jarak yang lumayan  melelahkan, dalam istrahat para petani ini akan duduk membentuk pormasi melingkar atau sejajar berhadap-hadapan saling merokok serta bercerita satu sama lain.

. Gambar . Para petani kemenyaan beristrahat setelah perjalanan panjang.

Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan para petani kemenyaan tersebut mulai terpecah atau berpencar menuju perjalan masing-masing kearah gubuk yang didirikan oleh setiap pemilik kebun. Pekerjaan mengguris, mangaluak (aktivitas mengolah pohon kemenyaan) tidaklah langsung dilakukan, biasanya para petani lebih dulu membersihkan gubuk dan pekarang gubuk tersebut dan menyalakan api didalm gubuk.

  1. C.    Kondisi Desa Huta Julu

Huta Julu merupakan desa yang mempunyai alam yang sejuk,dingin,alam yang indah serta ditemani hamparan persawahan dan lading-ladang perkebunan kopi. Desa ini memiliki kepadatan penduduk kira-kira 200 KK. masyarakat Desa Huta Julu mayoritas  adalah petani yakni dari jumlah penduduk terdapat 80% adalah Petani dan 20% Pengusaha dan PNS (pegawai Negeri Spil). Penghasilan masyarakat desa Huta Julu didominasi dari hasil Pertanian seperti : Padi, Kopi, Tanaman Muda mis; Tomat, Cabai, Kol, Sayur-sayuran. Namun sebagai andalan dari masyarakat desa Huta julu adalah hasil Perkebunan Kemenyaan.

Desa ini merupakan hunian serta tempat tinggal yang nyaman bagi masyarakat yang bertempat tinggal disana. Etnis batak toba adalah sebahagian besar dari masyarakat di desa ini, disamping etnis-etnis lain seperti ; Karo, Nias, Mandailing dan Jawa.

Perumpamaan yang kerap terdengar ditelinga “Anakkon Hi do Hamoraoon Diau (Anak merupakan  harta yang paling berharga)” salah satu filosofi yang paling diutamakan oleh masyarakat desa Huta Julu. Hal itu terlihat dari Keberhasilan putra-putri yang mencapai puncak keberhasilan di tanah perantauan maupun dibona pasogit sebagai halnya: Anggota Parlemen, Pejabat, Pengacara,Guru, TNI dan POLRI dll serta memiliki pendidikan dari D3, S1, S2 hingga jenjang paling tinggi dalam bidang Akademik sehingga kata yang terucap dari perumpamaan itu tepat, tidak hanya banyak anak bukanlah maksudnya namun ketika anak itu sudah mandiri dan sukses itulah yang dikatakan sebuah harta yang paling berharga.

Namun tidaklah sebatas itu yang merupakan kebanggaan dari desa Huta Julu, hasil pertanian dan kemenyaan juga merupakan sebuah andalan utama dari Desa ini. Rata-rata setiap kepala keluarga memilki Perkebunan Kemenyaan dan ladang kebun kopi disamping persawahan dan tanaman muda lainnya.

Pengusulan dari bebrapa putra daerah dan pemerintahan desa serta dukungan masyarakat yang sangat menginginkan dan menjadikan desa ini menjadi salah satu tujuan  wisata Agroturist (wisata pertaniaan) seperti halnya wilayah-wilayah desa yang menjadi tujuan wisata seperti : Berastagi dan beberapa desa di daerah Jawa dan Bali. Namun hal ini belum dapat terlaksana disamping umur dari Kabupaten Humbang Hasundutan masi mudah yang masih terfokus dalam bidang pembangunan Sarana dan Prasarana saat ini.

Disamping itu Desa Huta Julu terkenal dengan desa yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi dari masyarakatnya mempunyai jiwa dan sifat terbuka saling tolong menolong untuk perubahan dah bahkan tradisi leluhur membantu orang tanpa mengaharapka imbalan dengan iklas “MARSIADAPARI” masih terlihat jelas didalam masyarakat desa ini dan bagi siapapun. Sehingga dari hal tersebut  desa ini pantas menjadi no 2 dari 4 desa percontohan di Kabupaten Humbang Hasundutan. (Ater BS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s